Skip to main content

Sayang Anak, ya Jaga Bumi dong!

"Mah, aku siram ya tanaman depan rumah, kasihan nanti layu", pinta Alfath. 

Begitulah keseharian anakku (3.5 years old) jika selesai mandi. Air yang biasa ia gunakan untuk mandi ia tampung didalam ember kecil dan disiramkan ke tanaman-tanaman yang ada di halaman rumah. Berawal dari kebiasaan memberikan petuah kecil tentang baiknya merawat lingkungan, akhirnya pun ia terbiasa untuk mencintai Bumi.

Menjaga lingkungan berarti juga sama dengan menjaga Bumi tempat tinggal kita. Hal ini dapat dilakukan melalui langkah-langkah sederhana yang diajarkan kepada anak-anak sejak dini. Anak-anak adalah aset terjaganya lingkungan di masa depan. Saat ini, orang tua hanya mampu membantu mengarahkan dan mendidiknya. Sesuai dengan tujuan utama WWF yakni untuk menghentikan dan memperbaiki kerusakan lingkungan yang terjadi serta membangun masa depan, dimana manusia hidup selaras dengan alam.

Berikut ini adalah langkah sederhana saya dalam mengajarkan anak untuk menjaga dan peduli dengan lingkungan. Mungkin juga sudah banyak orang tua yang melakukan hal sama dengan saya. Kalian juga pasti bisa untuk terbiasa melakukan hal ini kepada anak anda asal konsisten menjalankannya.

1. Pemanfaatan air bekas
Alfath dan adiknya adalah pecinta dunia air. Entah ikan atau kapal bahkan hingga airnya mereka pasti tergila-gila. Mereka bisa berendam lama di ember. Nah, air bekas mandi mereka jangan buru-buru dibuang, tempatkanlah di ember kecil dan biarkanlah anak-anak gunakan untuk menyiram tanaman. Begitupula dengan air tadahan hujan ya.
Menyiram tanaman pagi dan sore

2. Jangan sia-siakan makanan
Namanya juga anak-anak, sisa nasi pasti selalu ada setiap harinya. Nasi yang sudah tercampur dengan sop biasanya saya biarkan mereka memberikan makan ayam di halaman belakang rumah. Ini adalah cara yang baik untuk menyingkirkan kelebihan makanan kita dan membiarkan ayam-ayam itu memproduksi telur untuk kita. Sedangkan sisa nasi dari rice-cooker yang masih bagus saya jemur dibawah terik matahari dan jadilah nasi aking, nasi ini khas daerah asal saya, Banjarnegara, mirip ampyang.

3. Sampah jadi kompos
Sayuran sisa makan pun saya jadikan kompos sampah dibelakang rumah. Bantu anak untuk mengerti apa itu kompos dan gunanya.

4. Menghemat air
Lagi-lagi dengan air, meski negara kita dikelilingi lautan dan disebut negara maritim tapi kita juga harus ingat kita punya lingkungan, kita tinggal di Bumi yang harus dijaga. Ketika menyikat gigi, mematikan air, memasak atau lainnya. Ajari anak tentang penggunaan air. Alfath benar-benar terfokus dengan keberadaan air sampai-sampai saat mencuci beras, buah dan sayuran pun selalu diingatkan untuk mematikan air kran meski pencucian benda tersebut belum selesai.

5. Lampu
Matikan lampu, laptop, TV jika tidak digunakan. Hal yang sudah tidak umum lagi.

6. Tutup pintu
Selalu menutup pintu jika AC menyala sehingga AC tidak terbuang percuma.

7. Menanam sayur-sayuran
Pernahkah kalian membeli cabe, tomat, daun bayam dan daun katuk? Pasti pernah. Disini saya mengajarkan anakku untuk selalu memanfaatkan sayuran yang memungkinkan dapat ditanam di sebidang tanah belakang rumah dan sebuah pot kosong. Hingga ia belajar cara menanam sayuran dan rasanya jauh lebih baik karena sayuran yang ditanam dengan tangan kita sendiri terhindar dari pestisida.

Belajar menanam

Menanam sayur dalam pot      


8. Bawa botol air minum dan lunch box
Selalu membawa botol air minum dan tempat makanan saat jalan-jalan, bersepeda hingga sekolah. Guna menjaga kesehatan badan dari resiko bahan plastik alat makan minum tersebut dan menjaga lingkungan dengan mengurangi konsumsi benda plastik yang tidak aman (no food grade). Ini bukan promosi produk ya, ini mengenai bahan wadah makan minum yang baik untuk dapat dipakai dalam waktu jangka panjang. Untuk info lebih lanjut bisa dibaca di Link ini ya.

Tumblr & lunch box milik Alfath

9. Recycle
Kertas yang sudah tak terpakai lagi bekas tugas kantor suami menumpuk. Sisi sebaliknya masih kosong jadi bisa dipakai untuk belajar membaca atau mewarnai dan membuat mainan (topeng-topengan). Setelah kertas di dua sisi penuh dengan coretan, jangan dibuang tapi kumpulkan untuk diberikan kepada Bank Sampah yang ada di Perumahan kami.

Mewarnai topeng-topengan

Topeng dari kertas bekas

Taraaaaaaaaaa.. Pahlawan bertopeng
Belajar membaca
                                                                                      
10. Reuse
Biarkan botol-botol bekas selai dan benda yang memungkinkan dapat dijadikan benda baru dan bermanfaat semisal menjadi vas bunga atau tempat pensil.

11. Berjalan atau Bersepeda
Alih-alih menggunakan bensin untuk mengemudi, berjalan atau bersepeda keliling kompleks perumahan jauh lebih sehat dan membuat badan kuat. Mengurangi polusi asap juga berarti #PeduliLingkungan.

12. Pemanfaatan lahan sempit
Jangan biarkan lahan sempit kita terbengkalai. Berikan sisi positif ini kepada anak agar anak mengerti bahwa lahan sempit pun dapat dijadikan tempat untuk menanam tumbuh-tumbuhan hingga jadilah taman kecil.

Membuat taman kecil

Taman kecil

                         
13. Collecting
Sudah tidak asing lagi jika anak memang suka jajan. Nah bekas botol minuman atau plastik jajannya diletakkan dalam satu kantong besar. Di perumahan saya, ada Bank Sampah yang mau menampung benda-benda tersebut dan ditukar dengan nilai uang tetapi uang itu berbentuk sebuah tabungan dan dapat diambil setiap 3 bulan. Saya memang biasa mengumpulkan tapi saya berikan kepada tukang rongsok yang biasa lewat depan rumah secara gratis. Bukan karena gengsi tapi hanya ingin sekedar membantu mereka yang lebih membutuhkan.

Mengumpulkan sampah plastik


Sebenarnya apa sih yang susah untuk menjaga lingkungan jika tidak dimulai dari diri sendiri? Padahal hanya dengan menulis artikel lingkungan sesuai dengan tema yang diberikan oleh blog Detik.com yang bekerjasama dengan WWF, kalian juga sudah termasuk #PeduliLingkungan lho.

Bumi merupakan rumah kita, tempat membesarkan anak-anak kita dan menyelamatkan generasi mereka di masa depan. Jika kita ingin hidup sehat, berkualitas dan menikmati keindahan lingkungan yang telah dianugerahkan dari-Nya, kita bisa lakukan dari lingkungan kita sendiri kok. Jadi yuk ajarkan anak-anak kita untuk lebih mencintai lingkungan, Bumi tempat tinggal kita. Ajarkan mereka untuk selalu #IngatLingkungan Go Green!


*Semua gambar diambil oleh penulis*


Tulisan ini diikutkan dalam kompetisi Blogger Peduli Lingkungan 2014 yang diselenggarakan oleh WWF Indonesia yang bekerjasama dengan blog detik.





Comments

Popular posts from this blog

Pertolongan Pertama Mengatasi Anus Bayi Merah

Jangan anggap remeh iritasi merah pada anus bayi karena dapat menimbulkan rasa pedih, nyeri dan gatal pada anak yang kita tidak rasakan. Dua hari yang lalu, anak saya AL (2 tahun) mengeluh kesakitan saat saya bersihkan dg air bersih sesaat setelah buang air besar, “atitt mamaahh”. Lalu saya lihat “mana yang sakit mas?” Cukup kaget melihat ada iritasi merah pada anusnya.
Akhirnya saya minta tolong papahnya untuk membelikan baby oil. Iya baby oil yang bunda-bunda biasa pakai untuk dioleskan di lekukan-lekukan pada bayi atau untuk memijatnya. Dikarenakan dulu saat AL masih bayi, anusnya pernah merah juga. Ternyata memang baby oil ini sangat ampuh untuk menghilangkan iritasi merah pada bayi maupun balita kita. Ini sebagai pertolongan pertama sebelum ke Dokter karena dulu pengalaman saat Al msh bayi juga mengalami hal seperti ini.
Jadi jangan langsung memakai obat-obatan yang ga jelas yah bunda karena sifat kulit bayi dan balita kita masih polos dan rentan. Jika dengan baby oil yang saya …

Review Bedak Saripohatji Herbal Nan Alami

Wajah putih, mulus dan bebas jerawat. Siapa sih yang nggak mau? Cowo aja mau apalagi cewe. Tapi ya nggak wajahnya aja yang putih kali ya tapi badannya berkulit hitam. Kayak jenang jamuran dong,hehe.

Berbicara soal wajah. Nggak sedikit wanita sudah pasti mendambakannya, termasuk yang nulis en yang lagi baca. Wajah nggak akan jauh-jauh dengan yang namanya bedak, facial, masker, dan kawan-kawannya.

Ini nih, saya punya rekomendasi bedak dingin yang oke banget namanya Bedak Saripohatji. Tapi sebelum berbicara tentang bedak ini, saya mau cerita saat dulu waktu SMA. Saat SMA, wajah saya dipenuhi dengan bintang kejora. maklum rutinitas sebagai Girl Scouts yang tomboy dan nggak peduli dengan alam adam sekitar membuat wajah saya menjadi sedikit bernoda dengan bintang-bintang (red: jerawat). Mbayanginnya jangan berlebihan ya, nggak banyak banget kok cuma ada segitu aja kok. Ngeles, hehe.


Akhirnya saya pun dapat saran pinjeman (duh nggak banget ya, nggak modal), bukan nggak modal tapi memang bin…

Review Cream SARI Whitening

Actually, kulitku berwarna coklat sawo matang. Nggak tahu kalau sawo mentah bagaimana. Yang pasti kalau sedang mengisi identitas pasti tulisannya pilihannya ya sawo matang, putih, hitam atau apalah yang lainnya.

Bersyukur dengan segala yang diberikan Allah SWT dengan warna kulit ini, dengan keadaanku sekarang, semuanya. Alhamdulillah wa syukurillah. Jika melihat judul dari artikel ini pasti kalian akan mengira bahwa ah katanya bersyukur kok nge-review cream whitening, berarti ingin putih dong. Nggak mensyukuri tuh. Eits, jangan salah, dengan ini juga salah satu bentuk menjaga kesyukuran (*ngeles). Sebenarnya dari awal nggak tertarik dengan memutihkan atau yang lainnya.Akan tetapi saya sadar kini telah bersuami dan memiliki anak yang lucu-lucu. makin lama makin tua, pasti kualitas kulit kita akan berkerut dengan sendirinya. Paling tidak saya menjaga kebersihan dengan membuat kulit tetap cerah dan terjaga. Itupun untuk menyenangkan suami (*pasti dibilang ngeles lagi) eh ini penulisnya …